Senin, 04 Desember 2023
Senin Bersama RUMI
By Nun Tsaqilah
Part 1
🍀 Senyuman mie instan 🍀
Cantik. Dan Benar. Sungguh cantik. mawar merah yang mulai mekar merekah dilengkapi sorot sinar mentari menghangatkan embun pagi.
Seketika itu pula lah laki² remaja yg yang sudah memakai seragam biru putih dengan cekatan menangkapnya dengan kamera yang kemudian ia abadikan dari sudut manapun. Sejurus kemudian buru-buru iya bagikan kepada ibunda tercintanya. Tidak cukup sampai di situ ia pun segera menghampiri bundanya yang sedang menikmati kesibukan di dapur.
” Bun liat deh Bun, mawarnya bunda udah mekar 1 nih,” ujarnya seraya mendekatkan ponselnya kepada sang bunda yg asik membolak balik dendeng sapi.
Lantas terbelalak tak percaya jika awalnya pernah ada tanda kelayuan 2 hari yang lalu
” Ah yang bener sayang”
“Sejak kapan sih Kiki bohong Bun,” Riski sapaan akrab Kiki mencoba meyakinkan
Dengan spontan ibunda memindahkan spatula ke tangan Kiki lalu berjalan setengah lari menghampiri tanaman bunganya.
Suara decak senang terdengar oleh Kiki yang sedang mengangkat dendeng sapi dari penggorengan.
Lantas Kiki menggelengkan kepala sambil tersenyum ikut senang. Sepersekian detik bundanya mengajak Kiki mengobrol tentang bagaimana usaha bundanya agar satu pot mawar itu bisa hidup dan ikut menghiasi tamannya. Tampaknya Rona bahagia juga telah menghiasi paras cantik bunda Kiki.
Selain berprofesi sebagai sosok dokter kecantikan, bunda kiki sangat mencintai keindahan yang diwujudkan dalam bentuk merawat taman di halaman rumah.
” Cie bunda… Sana gih kabarin Abi juga” goda Kiki
“Udah dong sayang,”
“Terus apa katanya?”
” Masih Belum dibales ni, padahal mau video call juga loh”
“Masih ribet cari oleh² buat kita kali Bun,” sahut Kiki disusul dengan tawa mengharap.
“Kamu nih ..”
“Lagi pula nanti sore kan udah pulang”
Genap 4 hari sudah Kiki dan bundanya tinggal berduaan di rumah itu. Abinya yang menyadang gelar dosen pergi ke luar kota untuk melakukan riset penelitian sementara kakak laki²nya mengenyam pendidikan di luar kota. Dan kebetulan bibi yang biasa membantu di rumah sedang ada perlu di tempat tinggalnya.
”oh ya sayang, nanti bunda pulang malam Lo,”
Tutur bunda sembari menuangkan sayur, dendeng sapi meletakkan nasi yang masih panas dari ricecooker dan dan empat sehat lima sepurna lainnya ke bekal Kiki. Disini,
Bunda Kiki tergolong ibu yang sangat selektif dalam hal asupan makanan dan peduli terhadap kesehatan. Terutama terhadap anaknya. Dibalik itu, ternyata Kiki menghitung jika belum pernah curi waktu makan mie instan selama hampir setahun ini.
“Iya Kiki inget, makan malamnya udah bunda siapin di kulkas tinggal manasin aja, gitu kan,”
” Udah hapal ya kamu,”
“Bun”
“Hemb,” balas bunda dengan gaya lincah menuangkan susu ke dalam gelas.
“Bunda” panggil ulang Kiki dengan suara lembut.
Ketika melihat suasana hati bundanya yang sangat berbunga, Kiki rasa ini adalah momen yang tepat untuk mengabulkan permintaannya.
“Kenapa?”
Bunda Kiki balas menatap dengan mata teduh dan penuh ketenangan, hingga Kiki rasanya tak kuasa mengajukan permintaan.
” Udah siang bunda, Kiki berangkat ya ..” pamit Kiki dengan lehay mengalihkan pembicaraan.
” Allahu Akbar, buruan gih” panik sang bunda melihat arah jarum jam. Lantas segera mengulurkan tangannya menghantarkan Kiki kedepan rumah.
Seperti anak pada umumnya Kiki berangkat sekolah dengan menaiki sepeda roda dua. Dimana body dari sepeda roda duanya Kiki, tampak cool yang dengan mudahnya bisa lilipat. Sesekali ia juga mengeluarkan koleksi sepeda ontel yang kece untuk menemaninya pergi sekolah. Sekece prestasinya hingga menjadi murid kesayangan para guru.
“Assalamu Alaikum pak Deni,”
Salam Kiki dengan senyum khas penuh karisma yang diwarisi dari bundanya..
Dan selangkah kemudian mencium punggung tangan pak Deni yang baru saja memarkir kendaraanya.
bersambung….
Senin, 13 November 2023
Senin Bersama RUMI
🍀 GUMI 🍀
Disebuah laut samudera hindia yang sangat luas nann dalamm, hiduplah paus kecil bernama Gumi. Ia
hidup bersama keluarganya yang berjumlah 4 paus yaitu Gumi, gisel dan kedua orang tua nya yang
bernama mimi dan gugu. Paus kecil Gumi biasa memanggil orang tua nya dengan panggilan ibu dan
ayah.
Pada suatu hari Gumi dan kakak nya sedang pergi berenang renang di sekitar rumah mereka untuk
bermain dan menyapa ikan ikan lain yang ada di lautan tapi disaat mereka sedang seru berenang
tidak sengaja gumi dan kakak nya telah sampai pada perbatasan laut yang pernah diceritakan oleh
ayah nya yaitu paus besar bernama gugu. Gumi berkata
Gumi : “ Hei kak apakah kakak ingat cerita yang diceritakan oleh ayah tentang lautan dalam yang ada
di depan kita itu” lalu kakak gumi menjawab
Gisel : iya kakak ingat gumi ayah bilang disana banyak sekali ikan ikan besar dan banyak ancaman dari
manusia yang hendak menangkap kita, karena minyak yang ada pada sirip kita ini sangat berharga
bagi manusia.
Gumi : tapi kalau kita memang berharga kenapa jumlah kita dilautan hanya tinggal sedikit kak?
Gisel : semua itu dikarenakan sifat tamak manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka
dapat gumi. Mereka selalu memburu kita sampai banyak dari kita mati hanya untuk memenuhi apa
yang mereka mau.
Gumi yang mendengar itu hanya bisa membayangkan betapa sedih nya ketika
banyak spesies paus seperti dirinya yang diburu dan dibunuh oleh manusia.
Setelah percakapan yang cukup lama itu gisel mengajak gumi berenang kembali ke rumah karena
hari sudah mulai petang.
Sesampainya dirumah Gumi dan Gisel bertemu dengan orang tua nya. Ayah ibu Gumi yang merasa
Gumi murung sejak datang tadi menjadi penasaran apa yang telah terjadi pada Gumi, lalu ayah
mereka bertanya pada Gisel, apa yang menyebabkan Gumi murung seperti itu namun Gumi tidak
mau berbicara tentang apa yang dia pikirkan saat ini, karena gugu tidak mau memaksa Gumi akhirnya
mau tidak mau gugu percaya dengan apa yang Gumi katakan. Gumi merasa sangat berat hati setelah
mendengar cerita dari kakaknya, Gisel. Ia merasa prihatin dengan nasib paus-paus besar lainnya di
laut yang terus diburu oleh manusia. Gumi pun tidak bisa tidur semalaman, memikirkan bagaimana
bisa membantu paus-paus besar dan memastikan keluarganya tetap aman.
Keesokan harinya, Gumi memutuskan untuk bercerita kepada orang tua nya Gugu dan mimi, tentu
saja ditemani oleh Gisel kakak nya tentang kekhawatiran nya terhadap kelestarian paus paus seperti
ia dan keluarganya yang mulai terancam. Gumi menceritakan semua yang ia bicarakan dengan kakak
nya kemarin dengan perasaan yang sangat sedih.
Gugu dan Mimi yang mendengar cerita dari Gumi turut merasa prihatin karena memang benar apa
yang dikatakan oleh Gumi, bahwa spesies paus dewasa seperti mereka sangat terancam keberadaan
nya karena ulah manusia yang terus memburu paus untuk di ambil minyak nya. Namun di sisi lain gugu dan Mimi merasa bangga karena ia memiliki anak yang peduli dengan kelestarian paus dan
lingkungan.
Gumi yang masih murung pun bertanya pada gugu apakah ada cara untuk melindungi kelestarian
paus dari ancaman yang timbul dari manusia ini. Gugu menjawab Gumi dengan penuh kasih dan
berkata, bahwa ada satu satunya cara yang bisa dilakukan untuk melindungi paus paus dewasa yaitu
dengan menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan laut dan
keaneragaman hayati laut.
Mendengar itu Gumi sontak menjadi bersemangat karena ia tau bagaimana cara melindungi paus
paus dewasa serta keluarga nya. Namun Gumi sadar bahwa ia hanyalah seorang paus kecil yang tidak
mungkin bisa melakukan semua itu sendirian. Lalu Gumi mempunyai ide untuk membentuk aliansi
laut dengan para ikan ikan lain yang berada di sana.
Mendengar ide dari Gumi itu Gugu, mimi dan Gisel setuju untuk mengadakan pertemuan dengan
para ikan ikan lain esok hari.
Keesokan harinya Gumi mengajak semua ikan ikan lain yang ada di laut untuk bergabung pada aliansi
yang akan dibentuk nya. Mereka semua setuju bahwa mereka harus saling melindungi satu sama lain
agar tercipta lingkungan laut yang aman bagi semua mahkluk termasuk juga manusia.
Gumi dan seluruh aliansi laut yang telah mereka bentuk mengadakan kampanye yang berjudul mari
lestarikan ekosistem laut, yang berisi tentang pentingnya menjaga dan melindungi ekosistem yang
ada di lautan lepas, agar semua mahkluk bisa hidup dengan tenang dan bebas dari ancaman
perburuan liar yang dilakukan oleh manusia manusia tidak bertanggung jawab.
Perjuangan Gumi, Gisel Dan seluruh ikan ikan dilaut tidak lah mudah, Karena mereka menghadapi
banyak sekali rintangan dari berbagai pihak yang masih menetapkan bahwa berburu paus itu hal
yang benar. Namun karena banyak nya orang yang semangat dan terinspirasi dari usaha aliansi laut
Gumi, mereka bergabung dalam gerakan pelestarian itu.
Berkat perjuangan aliansi laut Gumi dan Gisel serta banyak nya manusia yang telah sadar akan
pentingnya menjaga kelestarian laut.
Perhatian dunia tentang perlindungan paus paus besar semakin
meningkat. Banyak negara dan organisasi dunia ikut berpartisipasi untuk melindungi spesies paus
yang terancam punah, serta menjaga kelestarian ekosistem laut secara menyeluruh di seluruh
belahan dunia.
Setelah seluruh perjuangan Gumi kala itu, ia terus menjadi pelopor tentang pelestarian lingkungan
dan menjadi icon yang menjadi inspirasi banyak orang di luar sana, Khusus nya anak anak muda.
Saat Gumi dan keluarga nya telah tua, mereka sangat bahagia. Karena apa yang menjadi
kekhawatiran mereka selama ini telah usai. Paus Paus besar tidak lagi diburu oleh manusia mereka
bisa hidup dan berenang dengan tenang. Gugu berkata kepada Gumi dan Gisel bahwa mereka sangat
bangga bisa ikut dalam menyelamatkan spesies nya dari ancaman kepunahan. Gumi yang mendengar
itu turut bersuka cita karena dirinya juga bangga dapat menjadi salah satu pelopor penting nya
menjaga kelestarian lautan.
Dan dari situlah kisah Gumi si paus kecil dengan segudang semangat serta tekad nya dapat membuat
perubahan yang sangat besar bagi seluruh mahkluk yang ada di lautan. Semoga cerita dari Gumi ini
dapat menginspirasi banyak orang di luar sana agar terus berperan aktif dalam melindungi
lingkungan dan semua mahkluk yang ada di muka bumi ini
Senin, 06 November 2023
Senin Bersama RUMI
By; Nun Tsaqilah
Happy reading Senin Bersama RUMI
🍀 Kelezatan Sabar 🍀
“Rachel kamu sekarang di mana?”
“Masih di sekolah, Ayah,” sahut Rachel lirih.
“Jangan kabur dari Ayah, Rachel. Ayah kenal kamu tidak. pandai kabur.”
Sementara Santi yang sedari tadi mendengar sayup-sayup suara ayah Rachel, segera bertindak mendekatkan telinga ke asal suaranya.
“Percuma kamu melarikan diri dari Ayah, karena Ayah sudah menghanguskan nama kamu di kompetisi yang sok-sokan kamu sembunyikan itu.”
Seketika dada Rachel sesak, air matanya keluar segampangnya. Tangan kanannya lemas, hingga ponselnya terjatuh dan buru-buru ditangkap Santi. Sementara Pak satpam yang sudah siap berjaga untuk memberikan pernyataan sebaik. baiknya, urung mendengar suara isakan Rachel.
“Loh kok nangis,” ucap Pak Buncit dengan suara iba.
Santi yang sedang mencoba menguatkan dengan mengelus-elus punggung Rachel, menyuruh Pak satpam untuk diam.
“Pak Buncit, ada mobil kepala sekolah tuh, mau keluar. Sana gih bukain gerbang,” ujar Santi supaya dapat mengalihkan pandangan Pak satpam.
“Kamu yang sabar ya, Cel, aku yakin besok akan ada kesempatan yang lebih besar dari ini buat kamu.”
Perlahan Rachel mengusap air mata. Lalu mereka bangkit. dari posisi jongkok, merapikan seragam putih abu-abu yang mereka kenakan. Tak lupa Rachel dan Santi juga berpamitan pada Pak Buncit.
Selama perjalan menuju rumah, Rachel diam seribu bahasa. Kepalanya terus menoleh ke kiri melihat pemandangan pinggir jalan, ketika Pak Itham tiada spasi memarahi Rachel, bahkan sampainya di rumah omel Pak llham masih belum sampai titik, suaranya pun masih lantang.
“pokoknya Ayah enggak mau tau, kamu harus belajar di rumah,” ujar Pak Ilham.
“Menutup pintu seperti itu tak akan buat nilaimu jadi seratus, Chel. Gara-gara ulahmu hari ini, jadwal lesmu kacau Chel, senengkan kamu?” timpal Pak llham lagi, sedang di balik pintu kamar, Rachel terisak. Dia tidak tahu akan sampai kapan hidupnya yang seperti robot berakhir selain jalan kematian.
Langit mulai gelap. Keindahan bulan sabit semakin tampak menawan dikelilingi oleh jajaran bintang. Setelah kejadian tadi siang, Rachel lebih memilih mengurung diri di kamar menikmati alununan musik berbau religi.
“Sayang, makan yuk, dari tadi kamu belum makan, loh,” rayu bunda Rachel dari balik pintu.”
“Nanti Cecel makan kok Bun, Bunda duluan aja,” ucap Rachel terdengar parau.
Karena tidak ingin kesehatan anaknya terganggu, bundanya pun membawakan nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk, dan segelas air putih ke kamar Rachel. Awalnya bunda Rachel tidak ingin pergi sebelum makanan yang la bawa masuk ke mulut Rachel, tetapi setelah sesuap ke tiga bundanya menyuruh berhenti.
“Bunda cermati akhir-akhir ini mata kamu sembab terus, ada apa Sayang?” tanya sang bunda sembari mengambil makanan dari pangkuan Rachel.
“Rachel baik-baik aja kok, Bunda,” jawab Rachel sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Bukan itu jawaban yang pengen Bunda denger, Sayang,” timpal bunda lirih.
Rachel terdiam. Selama ini bunda kenal betul kalau Rachel adalah anak yang penurut dan patuh terhadap orang tua. Namun, sekali-kali sebagai orang tua, bundanya juga ingin mendengar anaknya bercerita keluh kesah di masa remajanya, sebab ketika berada di momen itu, orang tua akan merasa dirinya dihargai sebagai orang yang paling dekat dengannya dan dipercayai menjaga rahasianya. Benar saja malam itu juga tangis Rachel pecah. la menumpahkan segala perasaan dan keinginankeinginannya di pundak bundanya. Setelah puas berada di pundak bunda, ia merasa lebih tenang dan lebih siap bertemu dengan guru privat pilihan ayahnya.
Langkah Rachel terasa berat sepulang sekolah. la berusaha menikmati proses sebagai seorang pelajar yang giat belajar dan menerima tambahan pengetahuan dari les. Namun, setiba di rumah ia terkejut melihat seseorang mengirimkan sebuah alat musik berupa piano, mikrofon di rumahnya. Lantas ia bertanya kepada adik laki-lakinya yang kebetulan lebih dulu pulang sekolah.
“Dek, itu piano, mikrofon siapa yang pesen? terus buat siapa?” tanya Rachel sugguh penasaran.
“Kak Cecel gimana, sih?” ucap sang adik kesal dan Rachel pun bingung.
“Buat kak Cecel-lah, kan katanya mau ada guru les buat Kak Cecel, “kan?”
Rachel betul-betul tambah bingung tidak mengertikalimatkalimat adiknya. Lalu sang ayah datang bersama guru les Rachel.
dan menjelaskan semuanya. Diam-diam, selama ini ayah Rachel pura-pura tidak peka dan memperhatikan anaknya.
“Ayah minta maaf kalau selama ini membuat kamu merasa tertekan dan sering membuat kamu merasa kurang dihargai atas usaha-usahamu,” ucap sang ayah lalu segera memeluk Rachel.
Air mata Rachel tumpah ruah karena bahagia. la sama sekali tidak menyangka, jika Pak Ilham akhirnya mengerti keinginannya. Tak henti-hentinya Rachel berterima kasih dan mencium tangan ayahnya bolak-balik. ia merasa menyesal jika pernah berprasangka buruk pada ayahnya.
“Ini semua buah dari kesabaranmu menjadi anak yang penurut pada Ayah dan Bunda, Nak,” ungkap Pak Ilham semakin membuat air mata Rachel semakin berlinang.
Senin, 30 Oktober 2023
Senin Bersama RUMI
By; Nun Tsaqilah
Happy readingSenin Bersama RUMI
🍀 *Kelezatan Sabar🍀
Mengapa??
Mengapa aku harus?…
Mengapa ayah mengharuskan aku selalu dan terus juara 1 dikelas?
Rachel menatap raut wajah di depan kaca dengan sikap tenang yang menipu. Namun, tatkala mendengar suara pak Ilham mengetuk pintu kamarnya, seketika wajahnya berubah panik, bibirnya tak berhenti menggigit ujung kuku. Ia kelabakan menyembunyikan raport hasil ujian tengah semester miliknya. Bukan main, gemuruh dadanya semakin tak karuan saat tangannya mencoba membuka pintu.
“Chel, Ayah ingin lihat nilai rapotmu!” Ayah nyelonong masuk kamar lalu maraih tas ransel di atas meja belajar.
“Kamu umpetin di mana, chel?” Tanya pak Ilham sembari fokus mencari di rak buku. Sebagai salah seorang kepala sekolah di SMA bergengsi, pak Ilham tidak ingin namanya tercoreng setitikpun. Baginya prestasi putrinya nomor satu.
Sementara Rachel hanya terpejam rapat, sembari erat-erat memegang rapor di balik punggungnya. Seolah sudah siap mendengar pidato panjang dan makian dari pak Ilham . Pelan-pelan ia melangkah mendekati sang ayah lalu menyodorkan rapor dengan posisi masih menunduk.
“Praaak!” Hantaman suara raport mendarat persis di kepala Rachel. la sedikit meringis kesakitan. Dengan mudahnya derai air mata mengalir di pipinya. Sudah terbiasa menerima amarah Pak Ilham, tak pernah sekalipun Rachel protes kecuali bundanya yang datang membela dan menenangkan emosi suaminya.
“Sudah dong, Ayah.” Dengan lembut bundanya meredam amarah Pak llham sembari mengelus kepala Rachel.
“Sebentar lagi dia lulus. Kalau begini terus Universitas mana yang mau menerima Cecel, Bun?”
Rachel menangis sesegukan. Setelah menerima nasihat dari sang bunda, Rachel segera mengunci kamar mengobrak-abrik buku yang tertata rapi sebelumnya. Tak berhenti sampai di situ, Rachel mengambil setumpuk catatan hasil belajar di laci mejanya dan dihamburkannya. Di lubuk hati paling dalam ia memberontak, ingin sekali mengutarakan kemauannya. la merasa terjerembab dalam jala ayahnya.
Matahari mulai menaikkan kaki, hangatnya ikut mengantarkan Rachel berangkat sekolah bersama ayahnya. Libur sekolah telah usai. Kali ini Rachel berusaha memberanikan diri untuk angkat bicara setelah berdoa sebanyak-banyaknya.
“Pulang sekolah, jangan mampir-mampir, langsung pulang ke rumah,” pinta Pak llham.
“Tapi Ayah,” balas Rachel memasang muka melas.
“Gak usah protes. Nilai try out kamu masih harus diperbaiki.”
Pak Ilham hanya sekadar mengingatkan kalau tugas Rachel adalah belajar, belajar dan belajar. Padahal nilai hasil belajar Rachel sama sekali tidak buruk, hanya saja namanya tidak bertengger di posisi paling atas, hanya nomor dua.
Sejauh ini, Pak Ilham selalu mengajarkan anak-anaknya untuk terus maju pantang mundur tanpa mengenal kata malas dan rasa lelah. Rachel sudah menumpahkan seluruh kemampuannya. Akan tetapi, Rachel merasa Pak Ilham tak pernah melihat itu. Pelajaran agama membuatnya belajar bahwa membahagiakan orang tua adalah yang paling dianjurkan, dan dari agama pula dia belajar jika rida orang tua merupakan rida dari Allah Swt. Selama itu pulalah, ia sabar menahan egonya untuk tidak mementingkan kebahagiaan dirinya walau kadangkala bagi Rachel, semua ia lakukan hanya demi menjaga kehormatan ayahnya.
Jarum jam menunjukkan pukul dua siang, suara bel berbunyi. Saat itu pula Rachel memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah dan memilih bergabung dengan teman-temannya untuk mengikuti kompetisi bernyanyi di kancah kabupaten. Diam-diam selama ini Rachel merahasiakan jika dirinya memiliki suara merdu, unik dan bakat dalam bernyanyi. Kalaupun tahu Pak llham tidak akan memedulikannya, lantaran pendidikanlah segalanya baginya.
“Cel, ayo Cel!” ajak salah satu teman Rahcel sembari menarik tangannya penuh semangat.
Ketika keluar dari kelas mendadak ponselnya berdering, terbaca di layar panggilan dari ayahnya. Matanya terbelalak, ia dilema mengangkatnya atau tidak. Rachel merasa seperti mau mati saja. Namun, dengan keberanian tinggi, Rachel membiarkan ponselnya berdering semaunya dalam tas, lalu melangkah melewati lorong sekolah sembari bergurau bersama teman-teman sebayanya. Tiba-tiba di depan pintu gerbang langkah Rachel terhenti.
Dag dig dug sembarangan bunyi dadanya. la melihat sebuah mobil keluarga berwarna hitam sedang terparkir di pinggir jalan sekolah, di sampingnya terdapat seorang laki-laki berpawakan bapak-bapak, perut buncit memakai seragam keki, sedang berbincang dengan seorang guru kelas Rachel yang secara kebetulan hendak pulang. Tanpa pikir panjang, ia tarik tangan Santi teman akrabnya, untuk kembali masuk gerbang sekolah dan bersembunyi di balik pos satpam. Sontak Pak satpam menoleh dan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Kalian sedang apa? dikejar setan? Hahaha.” Pak satpam menggelengkan kepala, seolah paham betul jika seringkali menjumpai siswa-siswi melakukan hal yang sama seperti Rachel dan Santi. Tidak jauh berbeda, kasus mereka kalau bukan karena melarikan diri dari jemputan, paling menjauhi dari kejaran pertemanan yang sedang tidak sehat. Untuk meminta pertolongan, Pak satpam tentu meminta imbalan. Maka benar saja Pak satpam dijuluki Pak Buncit karena memiliki perut yang super buncit.
“Ssst,” sahut Rachel, meletakkan jarinya di tengah bibir menghadap satpam.
“Pak, nanti kalau ada bapak-bapak pakai seragam keki ke sini, aku mohon bilangin kalau aku udah pulang, ya!” pinta Rachel seraya memegang celana Pak satpam.
“Loh! kamu gak izin sama ayahmu, Cel?” sahut Santi kebingungan.
“Kamu, kan, tau sendiri mana mungkin ayahku bilang yes.”
Sementara Pak Buncit dengan mudah dan lapang dadanya berkata iya kepada mereka berdua. Lalu menyuruh Rachel dan Santi untuk jongkok di belakang pos satpam.
“Hallo.” Suara Pak Ilham dari balik telepon. Rachel bergeming, ia lebih memilih mendengar perkataan sang ayah selanjutnya.
“Rachel kamu sekarang di mana?”
Akankah Rachel bisa menghindari ayahnya?
Bersambung…..
Senin, 23 Oktober 2023
Senin Bersama RUMI
By Ulil Ainun Azizah IX B
🍀 BERDE 🍀
Pohon-pohon segar yang menjulang tinggi lalu hangatnya sinar matahari disertai dengan kicauan burung membuat suasana hati seorang pemuda yang sedang meneliti dedaunan semakin bersemangat. Nama pemuda tersebut adalah Ash, dia adalah penyihir berde—hijau, yang berbakat membuat ramuan dari daun dan juga memiliki kemampuan berbicara dengan hewan-hewan di hutan.
Dihutan tersebut ada sebuah bunga yang konon katanya jika dimakan bisa membuat orang yang memakannya akan terus hidup atau bisa dikatakan abadi. Ash yang mengetahuinya pun menjaga dan merawat bunga tersebut, dia juga sering menjual beberapa ramuannya ke ibu kota.
Tetapi suatu hari, tiba-tiba hidup Ash yang damai dan tenang di hutan berubah kacau dengan datangnya pasukan tentara Kerajaan Fuoco yang haus akan kekuasaan, mereka membakar hutan tersebut karena ingin menguasai hutan tersebut untuk memperoleh sumber daya alam yang melimpah dan juga Raja yang ingin bunga abadi tersebut. Ash dan hewan-hewan berusaha keras untuk mempertahankan hutan, namun karena tidak adanya persiapan membuat Ash dan hewan-hewan akhirnya harus menyerah.
Kerajaan berhasil menguasai hutan, merusak keseimbangan alam dan juga mengusir Ash serta hewan-hewan dari hutan. Ash merasa putus asa dan kesepian karna kehilangan tempat yang dikenal sebagai rumahnya selama bertahun-tahun. Dia pun memutuskan menjelajahi dunia luar, tetapi selalu merindukan kedamaian dan kebersamaan yang pernah ia alami. Tidak lama kemudian, rian mendengar kabar bahwa hutan-hutan lainnya mengalami hal serupa. Ia menyadari bahwa ia harus beraksi lagi, bahkan jika itu berarti ia harus melawan kerajaan yang kuat. Dengan tekad bulat, Ash menuju hutan yang menjadi sasaran kerajaan dan memimpin perlawanan untuk mengembalikan keseimbangan alam dan hak para hewan-hewan.
Meskipun perjuangannya penuh pengorbanan, Ash akhirnya berhasil mengalahkan kerajaan, tetapi dengan harga yang mahal. Ash menghembuskan nafas terakhirnya di tengah reruntuhan hutan yang ia cintai, kepergiannya disaksikan oleh hewan-hewan yang ia lindungi. Meskipun telah menang, ia tahu bahwa perjuangannya masih belum selesai dan mewariskan misi kepada hewan-hewan dan manusia yang percaya padanya. Kematian Ash menjadi simbol pengorbanan dan tekad untuk menjaga kelestarian alam, tetapi juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang mengenang perjuangannya.
Ternyata Tuhan masih menyayangi Ash, ia lahir kembali di jaman modern menjadi Rian. Dia tumbuh di lingkungan yang abai terhadap alam dan sekitarnya begitu pun kedua orang tuanya. Saat TK sampai SMA Rian juga menggunakan pengetahuan dan kebijaksanaannya dari dunia kerajaan fantasi untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan ekosistem.
Dengan gaya hidup yang berbeda, Rian menghadapi tantangan baru dalam dunia modern seperti perubahan iklim, dan urbanisasi. Namun, semangatnya tidak pernah padam. Ketika memasuki jenjang perkuliahan Rian memilih jurusan biologi di universitas UI, setelah lulus Rian memutuskan menjadi ilmuan dan bergabung pada beberapa organisasi lingkungan dan terus memberikan penjelasan dan manfaat menjaga alam dan sekitarnya kepada khalayak umum. Perjuangnya yang membuat letih dan lesu mampu menginspirasi banyak orang untuk bergabung dalam gerakan lingkungan.
Rian berhasil mempengaruhi kebijakan pemerintah, mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat, dan menjalankan beberapa proyek pelestarian alam.
Pada akhirnya, ketika Rian/Ash mencapai usia tua, ia merasa puas dengan warisan yang ia tinggalkan. Ia tahu bahwa semangat dan perjuangannya akan terus hidup melalui generasi-generasi yang akan datang, membawa dampak positif pada dunia modern dan melestarikan alam bagi masa depan yang lebih baik.
Hiduplah dengan loumuh sesuai keadaan, sekian terima kasih
Senin, 09 Oktober 2023
SENIN BERSAMA RUMI
Cerbung
By. Latifah 9C
Tema : Pendidikan
🍀 Bangkit dari Kegagalan dan Terapkan Target Terbaik 🍀
Aku dan segudang mimpiku di masa depan. “Bila Anda tidak menetapkan tujuan, itu sama dengan Anda memanah tanpa membidik” karena mustahil jika seseorang bermimpi tanpa mengubah kesempatan menjadi titik balik di dalam hidupnya. Itulah motivasi yang kuambil dari seorang penulis terkenal Hasanudin Abdurakhman. Kisah panjang dan perjalanan hidup yang rumit bahkan nyaris menyerah untuk meneruskan mimpi dan kehidupan yang penuh dengan persaingan.
Aku Elviona Aderald Dirgantara dilahirkan tidak sendirian namun mempunyai saudara kembar bernama Elvano Aderald Dirgantara, Kami terlahir dari keluarga yang terbilang mapan. Ayah Kami yang cukup pekerja keras mampu membangun perusahaan dengan nama Dirgantara yang terbilang besar di negara yang kini Kami tinggali. Ibuku adalah seorang wanita yang berprofesi sebagai Dokter pada salah satu Rumah Sakit milik Ayah kami. Aku bersyukur mempunyai kakak yang menemaniku bermain sedari kecil. Ya benar Ia adalah saudara kembar laki-lakiku.
Kicauan burung yang beterbangan di pagi hari membuatku bersemangat bangun dan menyiapkan diri untuk pergi Sekolah.
Aku adalah seorang siswa yang duduk dibangku Sekolah Menengah Atas tepatnya kelas sebelas. Waktu itu Aku memohon dengan berderai air mata untuk bersekolah dengan Elvano di sekolah yang sama namun Papa dan Mama menolaknya. Entah apa yang mereka pikirkan padaku yang hanya bagaikan foto yang terpajang didinding rumah saja. Sejak saat itu Aku mulai mencari alasan untuk selalu keluar karena tidak betah berada di rumah. “Mama hanya khawatir saja sayang jika Kamu melakukan suatu hal yang pernah kamu lakukan semasa sekolah dulu, Mama tidak mau kakakmu itu terlibat karena ulahmu!” Mama berucap sambil menekankan setiap kalimat akhir yang Ia lontarkan. Aku hanya menangis sambil berlari ke arah kamarku.
Setiap hari Aku selalu meninggalkan sarapan dan langsung pergi tanpa menyapa ataupun berpamitan. Aku menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa yang bagaikan istana ini. Sesampainya di bawah. Dari berlawanan arah tak sengaja Aku menabrak Elvano hingga tatapan nyalang Ayah lontarkan kepadaku. “Apa yang kau pikirkan, berjalan saja tidak benar!” hardik Papa dengan tatapan yang amat menyeramkan. Dan Aku melihat Elvano yang hanya cuek dan melanjutkan langkahnya. Tak menjawab sepatah kata apapun Aku langsung bergegas pergi ke Sekolah. Dalam kamus bahasaku tidak ada gunanya berbasa-basi yang hanya merugikan waktu saja. Itulah Aku Elviona Aderald Dirgantara.
1 bulan sudah Aku habiskan waktuku bersekolah di SMAN 1 BRITANIA. Aku selalu gagal dalam segala hal entah itu di dunia akademik sekolah maupun dalam non akademik. Hal itu membuat diriku sering di kesampingkan oleh teman dan sahabatku bukankah tak layak disebut teman. Bukannya Aku berusaha memperbaiki dan mendengarkan nasehat orang tua, Aku malah tidak terlalu mementingkan masa sekolah sekarang. Aku sudah sangat berusaha keras untuk menjadi seorang jurnalis yang hebat di masa depan namun mimpi itu sirna begitu saja, Penyababnya tak lain adalah Aku. Aku yang lalai membagi waktu belajar dan hanya mementingkan kesenangan sendiri. Aku tak mengikuti ekstra apapun jika waktu pulang maka akan langsung pergi ke Cafe atau berbelanja sepuasnya. Tugas sekolah yang tertunda dan BK yang sudah kuanggap sebagai penjara akrab bagiku karena entah berapa surat panggilan untuk Papa dan Mama.
Bukannya merasa malu namun Aku makin tertantang untuk melakukan di luar batas lainnya.
Tak terasa sudah 3 tahun lamanya Aku bersekolah di SMA 1 BRITANIA. Saat wisuda hanya kehampaan yang terasa bagiku. Meskipun Aku sudah berusaha memperbaiki nilai namun semua itu tak berhasil karena Aku dilanda rasa malas. Ketika teman yang lain diterima di kampus impiannya, Aku bimbang tak tahu arah harus bekerja ataupun kuliah. Memang benar jika Papa tidak akan memberikan peluang untuk Aku bekerja di perusahaannya karena Diriku juga tidak memiliki kemampuan apapun.
Di pagi hari bukannya bersemangat namun tiba-tiba muncul kegelisahan. “Aku masih mempunyai kartu milik Papa tapi jika suatu saat kartu ini tidak berguna apa yang harus kulakukan” Aku berkata dengan rasa teramat gelisah.
Tak berselang lama Elvano muncul dengan merampas kartu yang berada dalam genggamanku. “Berikan kartu itu kau hanya menguras kerja kerasku dan Papa jadi tak berhak untuk menikmati hasil kerja kami!” Elvano berkata dengan keras dan penuh amarah. Mama juga melihat hal itu namun Ia hanya diam dan tak bersuara. Aku tak menghiraukan perkataan Elvano karena Aku sangat menghargai karena dia kakakku. Namun saat mencoba mengambil balik benda tersebut Papa muncul dan langsung menyeret tanganku. “Elviona sudah cukup papa menasehati dirimu, lihatlah Mama apakah kau tidak kasihan dengan Mamamu hah!” Papa berkata dengan amarah yang berkobar-kobar.
Dua bulan sudah Aku melewati kejadian tersebut. Semenjak peristiwa itu Aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan memesan penginapan dengan harga terjangkau. Kegiatanku saat ini hanyalah mengambil madu dari sarang lebah dan menjualnya dengan harga yang sudah ditentukan oleh Liona. Benar sosok Liona adalah temanku sekaligus majikanku yang selalu menasehati Diriku kala Aku melakukan kesalahan. Namun Aku seakan tuli akan hal itu.
Aku menyesal seandainya saja Elviona yang dulu menyesali perbuatannya, mungkin hidupku tidak terpuruk seperti ini. Hidupku seakan bergantung pada gaji yang tidak seberapa ini hanya cukup makan dan membayar penginapan. Menangis ya hanya itu yang bisa kurasakan saat ini. Menyesal tentu, Penyesalan dan penderitaan seakan muncul paling akhir.
Rasa rindu kian muncul seakan ingin menarik waktu yang sudah terbuang percuma. Saat termenung dalam pikiran, Liona datang dan memberikan sebuah kertas di mana berisikan sebuah perlombaan menulis secara ilmiah apalagi jika bukan Artikel dengan ketentuan yang sudah tertulis di lembaran. Ku hanya menatap dengan sendu nominal yang sangat besar “apakah sebaiknya Aku mengikutinya” Aku mengatakan di dalam pikiranku. “Aku tadi mendapatkan sebuah lembaran kertas dari seorang karyawan perusahaan x, di mana jika Kita membuat suatu Artikel perkembangan positif dari perusahaan tersebut dan mengutipnya maka siapa yang paling beruntung akan diundang dalam acara ulang tahun perusahaan yang ke 20” Liona berkata dengan sangat rinci dan penuh harapan.
Satu minggu berlalu dan Aku sudah mengirimkan Artikel tersebut. Setitik harapan jika Aku menang dalam persaingan ini mengingat sudah lama Aku tidak menekuni hobi lamaku. Namun tak disangka Aku dapat mengalahkan beberapa orang yang ikut dalam perlombaan ini. Sesuai janji perusahaan Aku di undang dalam acara ulang tahun ke 20. Tak disangka Aku bertemu dengan keluargaku, Ternyata perusahaan x adalah Perusahaan Dirgantara. Sebelumnya Aku tak mengetahui hal ini karena ditutupi oleh Liona temanku karena pasti jika tahu Aku pun tak ingin mengikuti dan tak pantas berada di hadapan keluargaku. Rasa rindu dan penyesalan menjadi satu bagiku, Aku sudah tak tahan dan meminta permintaan maafku kepada kedua orang yang sudah merawat diriku.
Setelah kejadian itu Aku ingin berubah dan kembali konsisten pada tujuan impianku yang sirna. Tak lupa Aku meminta doa untuk melanjutkan pendidikan kuliah. Papa, Mama, Elvano sekalipun masih sayang kepadaku namun rasanya Aku malu telah bersikap semena-mena terhadap nasehat mereka. Sudah enam tahun lamanya Aku sudah melalui zona kehidupan yang penuh dengan rasa kecewa. Aku berhasil menuju tujuanku yang sekarang menjadi seorang jurnalis ternama karena telah menuliskan dan meliput beberapa kejadian secara profesional. Namun segalanya bukan berhasil jika tidak luput dari hangatnya genggaman keluarga dan teman yang selalu berada di dekatku.
Kebanyakan orang tak bermimpi adalah orang-orang yang tak banyak membuat kemajuan dalam hidupnya. Mimpi-mimpi bisa diwujudkan menjadi nyata, tak peduli berapa jauh kita dari mimpi itu. Syaratnya, kita tahu jalan yang harus ditempuh, lalu menempuh jalan itu dengan perencanaan yang baik, gigih menjalaninya, mau mengulangi dan mengoreksi langkah yang diambil bila gagal, dan terus berjuang sampai berhasil.
Senin, 25 September 2023
SENIN BERSAMA RUMI
Cerbung
By. Latifah 9 C
🍀 Bangkit dari Kegagalan dan Terapkan Target Terbaik 🍀
Aku dan segudang di masa depan:. “Bila Anda tidak menetapkan tujuan, itu sama dengan Anda memanah tanpa membidik” karena mustahil jika seseorang bermimpi tanpa mengubah kesempatan menjadi titik balik di dalam hidupnya itulah motivasi yang kuambil dari seorang penulis terkenal Hasanudin Abdurakhaman. Aku adalah seorang siswa yang duduk di bangku sekolah menengah pertama tepatnya kelas sembilan. Namaku Alvaro Aderald berumur 16 tahun anak pertama tiga bersaudara.
Berbeda dengan kedua saudara perempuanku Elvano Aderald dan Elviona Aderald yang sangat pintar dan berbakat sedari kecil, Alvaro merasa dirinya tidak berbakat dalam bidang apapun. Hal itu membuatnya tidak percaya diri karena diukirnya yang sangat muda Elvano dan Elviona mereka bisa menjadi siswa akselerasi yang hanya menempuh pendidikan SMP hanya 2 tahun saja, dan sekarang mereka duduk di kelas sembilan sama sepertiku namun aku turut merasa senang atas keberhasilan yang mereka capai .
Aku terlahir di keluarga yang cukup di bilang mapan , ayah merupakan pemilik Perusahaan Dirgantara yang menjalankan beberapa industri Perabotan Rumah Tangga dan merupakan pemilik rumah sakit yang terbilang besar dan berpengaruh di Indonesia dan ibuku berprofesi sebagai Dokter di rumah sakit tersebut,Meskipun keluarga Anderald sangat mapan namun Ayah dan Ibu mendidik Alvaro dan kedua Adiknya untuk berusaha sendiri jika ingin membeli barang yang diinginkan kecuali biaya yang mengarah ke pendidikan.
Namun seiring berjalannya waktu Aku merasa bosan dengan rasa malas yang terus menghantuiku, Makin lama Aku merasa diriku berubah menjadi sedikit kasar karena seperti tidak dianggap sebagai pewaris keluarga Aderald. Alvaro yang dulu dan sekarang telah berbeda.
Sebelumnya Aku memiliki impian yang sangat besar bahkan tidak mungkin terwujud. Aku berkeinginan Bersekolah dan berkuliah di Universitas yang terkenal. Tapi Aku yakin pasti bisa. Aku tahu kekurangan diriku namun apa yang kuimpikan pasti terwujud dengan tekad dan kerja kerasku. Mimpiku tidak boleh terkubur dengan kenyataan diriku malas untuk menjalankannya. Ada tujuan ada pengorbanan. Inilah kisahku yang kutulis dengan segala penyesalan, kekesalan, dan perjuanganku selama ini.
Awalnya saat duduk dibangku kelas tujuh Aku memang Anak yang kurang dalam menerima pelajaran sehingga kedua orang tuaku selalu mengabaikanku karena sudah merasa kecewa dengan apa yang selama ini kulakukan. Aku lebih senang menghabiskan waktu liburku hanya untuk bergurau bersama dengan teman-temanku. Kemudian Aku nyaman dengan apa yang kulakukan sekarang ini. lama kelamaan Aku jadi tidak fokus terhadap tujuan Aku bersekolah sekarang, hal itu terus berlanjut hingga Aku duduk dibangku kelas delapan.
Aktivitas yang kulakukan memang keterlaluan bukannya Diriku mengejar impianku dan berkarier dimasa muda, Aku malah mencari ketenaran di hadapan teman-temanku. Pulang malam untuk Balap liar, Perokok aktif hingga bergaul dengan beberapa orang-orang yang tidak tahu dari mana asal usulnya. Awalnya memang penasaran namun kata penasaran tersebut berbalik menjadi kebiasaan yang hingga saat ini mengubah sifatku. Padahal jika diperjelas Aku memang berasal dari anggota keluarga yang semua isinya adalah orang-orang yang berpengaruh di negeri ini.
Ayahku telah mengetahui jika Aku telah berbuat di belakangnya selama ini. Lalu Ayah pun marah dengan apa yang telah Ia ketahui bahwa anak lelaki satu-satunya telah berbuat hal-hal di luar dugaannya. Ayah memang tahu jika Alvaro suka meminta segala fasilitas yang berlebihan hingga membuat ibunya pusing kepala mengahadapi masa puber anaknya tersebut. Namun dibalik itu semua ibu selalu menasehati apa yang Aku lakukan untuk berhenti merokok dan segala hal yang berbau perilaku negatif bahkan ibu membela diriku di depan Ayah, karena umurku memang masih terbilang minor jika Aku melakukan itu semua. Namun Aku adalah Alvaro Aderald Aku tidak akan mendengarkan siapa pun sebelum Aku mendapatkan kesenanganku sendiri hingga hari ini Aku duduk dibangku kelas sembilan.
Setiap liburan akhir tahun Aku akan pergi ke California bersama ayah dan Elvano untuk mengurus beberapa bisnis yang terjalin di Perusahaan Dirgantara. Aku tidak peduli dengan larangan yang diberikan kedua orang tuaku bahkan Aku melarang mereka untuk mencampuri urusanku. Di sana bukannya Aku menjalankan tugasku untuk membantu Ayah, Aku malah masuk dalam sebuah Geng Motor yang cukup terkenal di daerah San Bernardino, California. Aku dan yang lainnya mengenakan pakaian dengan warna yang sama yaitu serba hijau. Lambang klub adalah Loki, dewa kenakalan Norse, Geng motor tersebut bernama Vagos Motorcycle Club.
Hal yang saat ini Aku pikirkan yaitu bagaimana caranya keluar dari keluarga ini hanya karena mereka tidak selalu setuju dengan apa pendapat dan keinginan Anaknya. Aku Anak yang selalu menuntut Ayah untuk memberikan uang bulanan yang lebih, lebih dari kedua adikku. Aku akan melakukan segala cara apapun untuk mendapatkan uang dan fasilitas yang lumayan terbilang mewah.
Dan tak sengaja salah satu adikku Elviona pun tahu saat Aku sudah kembali ke Indonesia dan sedang berbincang ditelefon, Ia tahu bahwa Aku mengikuti sebuah Club Motor yang ada di luar negeri. Tak takut dengan apapun Elviona memang perempuan yang sangat cerdas sifatnya bahkan wajahnya bak pinang dibelah dua seperti Ayah dan menjadi kebanggaan keluarga Aderald. Ia pun segera memberitahukan kepada Ayah dan Ibu, mereka yang sangat terkejut mendengar hal itu langsung meminta Alvaro untuk datang ke ruang tengah dan detik itu juga Ayah dan Ibuku memutuskan hubungan kami sebagai keluarga karena telah mempermalukan nama baik dan harga diri keluarga Aderald. Aku begitu tertekan saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh seluruh anggota keluargaku. Mereka menyuruhku untuk tidak menemui Mereka sampai Diriku berubah menjadi Anak layaknya Anak pada umumnya.
Meskipun Aku ingin keluar dari keluarga ini tapi bukan seperti ini caranya. Aku merasa gagal dalam segacla hal, gagal dalam sekolah, gagal sebagai seorang anak.
Bersambung….
Komentar Terbaru